Postingan

sepucuk surat rindu

jangankan mengingatmu, mengingat hal-hal kecil pada diriku sendiri saja kadang tak pernah aku sibuk...sibuk sekali tapi entah apa yang membuatku sibuk aku lupa bahwa ternyata dulu betapa aku dan kau sangat dekat dan kini, aku tak pernah memberimu kabar sedangkan kau masih saja mengkhawatirkanku tenanglah! aku baik-baik saja walau aku tak dapat menyimpulkan masih sebaik dulu saat masih bersamamu tapi aku telah berusaha hidup mandiri sama seperti yang engkau selalu ajarkan di sini...hari-hariku diisi dengan berbagai rutinitas di balik meja kerja bukankah ini yang kau inginkan sejak dulu? ah..bukan. Akulah yang menginginkannya Aku ingat sekarang, dulu sekali saat masih bersama kau suatu waktu di bawah teriknya mentari di tengah pematang sawah, kau menanyaiku tentang sebuah cita-cita ingatkah kau jawaban polosku? aku hanya tak mengerti apa yang kau bicarakan, tak bisakah kau memakai bahasa kanak-kanak? kau tersenyum dan mulai bercerita lalu melupakan apa yang seda...

Terbentur, Terbentuk

Suatu waktu di pertengahan purnama pertama 2018, aku berkesempatan menginjakkan kaki ke pulau seberang. Bukan tanpa alasan ke sana tetapi untuk tujuan sebuah gerakan sosial pendidikan. Tentang kegiatan sosial itu akan kuceritakan di lain waktu dengan baik. Kali ini aku ingin share tentang sebuah pengalaman kecil nan berarti dari perjalanan panjangku di sana. Adalah si pendiam nan cerewet jika sudah kenal dekat. Namun ternyata sisi cerewet itu kali ini tidak berlaku. Tidak berlaku sama sekali. Kau sebut apa jika aku mendadak menjadi orang asing bagi diri sendiri di daerah asing pula? berangkat ke pulau dengan bermodalkan nekad (sesuatu dalam diri berkata: mumpung sudah di sini, kenapa tidak mencoba? Ayolah keluar dari zona nyamanmu). Maka aku pun meng-iya-kan berangkat. Saat itu semesta sedang tak bersahabat. Perahu yang kami tumpangi terseok-seok. Ku lirik sekelilingku namun mereka terlihat tenang dan malah asik bercengkerama. Lalu aku? benar-benar ketakutan. Seorang temanlah yang...

Mencintai Anak Indonesia

Tanggal 28 Januari 2018 yang lalu, kepanitiaan Kelas Inspirasi Makassar ke-6 dimulai. Dari sana kami berangkat dan bekerja sama, bergandengan tangan menyukseskan terlaksananya kegiatan ini. Tentu saja banyak halang rintang yang datang namun itu tak menyurutkan langkah kami.  Ketemu dengan orang-orang luar biasa yang selalu saja berpikiran positif dan mau peduli tentang pendidikan di Indonesia terkhusus kota Makassar tanpa harus dibayar. Bekerja dengan tulus iklas dan sukarela. Volunteer..  Menjadi seorang volunteer pendidikan (Kelas Inspirasi) berarti siap meninggalkan segala kepentingan pribadi dan mengutamakan tanggung jawab tinggi yang diembannya kepada masyarakat. (cek 7 prinsip dasar KI) Ya, karena Volunteer bukanlah tentang lifestyle. Pendidikan adalah tonggak majunya Indonesia di masa depan. Namun tidak dapat dimungkiri begitu banyak persoalan yang kita temui di setiap daerah bahkan di kota sekali pun.  Pada pelaksaan KIM6 kali ini saya men...

Kedelapan yang Pertama

Gambar
Makassar International Writers Festival adalah festival sastra internasional pertama dan satu-satunya di Indonesia Timur. Festival yang diselenggarakan oleh Rumata' Artspace sebagai program tahunannya kali ini mengangkat tema Voice/Noise yang menggemakan suara-suara kritis dari masyarakat sipil di tengah tahun gadu politik. MIWF adalah salah satu kegiatan yang selalu saya tunggu tiap tahun. Selain tempat bertemunya para penulis dari seluruh dunia, miwf menjadi tempat saya berkenalan dan berdiskusi dengan para pecinta literasi, tempat membaca buku yang asyik, kesempatan berburu buku murah sekaligus tempat yang membuatku merasa bodoh karena ternyata hanya mengetahui sedikit dari banyaknya ilmu yang ada di buku.   Hari ini, tepat sebulan kegiatan ini dilaksanakan Tahun 2018 merupakan tahun kedelapannya. "Kedelapan yang pertama" bagi saya bergabung menjadi volunteer   setelah tahun-tahun yang lalu setia menjadi pengunjung festival Ya, kali ini berbed...